Jawab-Nya kepadaku: “Kesalahan kaum Israel dan Yehuda sangat banyak, sehingga tanah ini penuh hutang darah dan kota ini penuh ketidakadilan; sebab mereka berkata: TUHAN sudah meninggalkan tanah ini dan TUHAN tidak melihatnya. Karena itu Aku juga tidak akan merasa sayang dan tidak akan kenal belas kasihan; kelakuan mereka akan Kutimpakan atas kepala mereka.”

 

(Yehezkiel 9: 9-10)

 ***

Seandainya kita bermain dengan analogi, maka bagus juga membayangkan bahwa umat Katolik yang menganggap diri “garam” dunia itu kini telah mencair menjadi “air”, atau lebih tepat “zat cair”. Kasih memang seperti air juga. Pada tahap “pemuasan diri” air memang berperan sekedar sebagai pemuas dahaga. Pada tahap “perluasan diri” air memang bisa juga menjadi air bah yang menggenangi seluruh kota bahkan menenggelamkannya. Namun pada tahap “penyangkalan diri”, ia harus puas hanya berperan sebagai zat cair saja, di dalam bensin, minyak goreng, oli, Coca Cola, kecap, atawa secangkir kopi di warung tetangga.

 

Kasih yang menyangkal diri adalah zat cair itu. Seperti halnya dalam bensin, minyak goreng, dan Coca Cola, zat cair itu merupakan “roh”nya namun hadir tanpa label nama, maka kasih orang Kristiani merasuki dengan intim setiap agama dan setiap golongan manusia, sebagai roh kemanusiaan serentak Roh Tuhan yang memupuk serta mengembangkan setiap potensi kasih dalam diri mereka, namun tanpa mengibarkan bendera. Dengan itu memang sepertinya kita justru kehilangan identitas, namun barangkali justru pada tingkat inilah Gereja menjadi sungguh-sungguh “Katolik”, yang artinya memang “umum, universal”, alias hadir di mana-mana, sebagai “sukma” dari segala. Identitas kita tidak lagi terletak pada label nama, melainkan pada nilai kasih, pada kian terwujudnya kasih itu secara universal. Barangkali ini pula alasan mengapa Simone Weil tidak pernah mau dibaptis. Dan dalam rangka Kristianitas yang matang tadi, boleh jadi seorang Kristiani tak seberapa beda dengan seorang aktivis humanis. Namun toh tidak sama, dalam hal: ia lebih radikal daripada para humanis, sebab bagi seorang Kristiani mengasihi sesama itu bukan sekedar pilihan opsional atau selera individu, melainkan suatu kewajiban mutlak, sesuatu yang bersifat imperatif.

 

Adapun Gereja sebagai institusi tidak ada salahnya kita anggap sebagai “mata air” atau sumber zat cair yang tak habis-habisnya. Daripadanya (mestinya) kita dapatkan selalu sumber energi baru juga, seolah umat dapat selalu menyusu kepadanya. Oleh institusi ini idealisme kasih senantiasa dipupuk, dikobar-kobarkan, dan dirayakan. Dalam kerangka itu pulalah simbol-simbol fisik masih diperlukan. Dengan kata lain, simbol-simbol fisik masih berguna terutama dalam konteks intern: untuk membantu mengintensifikasi penghayatan nilai Kristiani terutama nilai kasih, di antara kita sendiri.

 

Dengan itu semua akhirnya mau dikatakan bahwa kekhawatiran seolah kita sedang kehilangan identitas barangkali tidak perlu ada. Boleh jadi yang terjadi adalah bahwa kita justru sedang memasuki tahap “pematangan identitas”, yaitu tahap ketika kasih mulai menyangkal diri sendiri.

 

Kesulitan umum untuk menerima cara pandang macam di atas itu adalah masih besarnya kecenderungan untuk menganggap diri sebagai “pusat”, yang memonopoli kebenaran dan ingin menaklukkan orang lain atas nama kebenaran itu. Kecenderungan egosentrisme kekanakan atau etnosentrisme yang sudah kadaluwarsa ini memang masih juga ngotot bercokol menguasai kebanyakan orang. Apa boleh buat, orang memang lebih suka pada rasa aman, betapapun semu dan mengecohnya hal itu. Masalahnya kan sang Kebenaran itu sendiri sebetulnya bagaikan matahari. Siapakah yang bisa meraihnya dan mengantonginya? Siapakah yang bisa memonopoli kebenaran dan memenjarakannya dalam sebuah sistem saja? Matahari terlalu jauh dan terlalu membakar, namun ia memberikan sinar kepada semua, dengan intensitas yang sama namun ditangkapi dan diolah dengan cara berbeda-beda dan melahirkan kehidupan yang beragam pula. Biarkanlah begitu, sebab Allah, sang Kebenaran itu memang teramat kaya dan teramat luaslah kasih-Nya. Tentang siapa sesungguhnya Dia pada dirinya sendiri, siapakah yang dapat mengetahui sepenuh-penuhnya? Namun siapa atau apapun Dia, kita tahu pasti bahwa Dia adalah juga sang “Kasih sejati”. Dan kalau kita percaya bahwa Dia adalah kasih, maka segala hal tentu dikasihi-Nya tanpa kecuali, dengan intensitas yang sama, namun memang dengan cara yang berbeda-beda. Sedang keluasan dan kedalaman kasih itu tentulah mengatasi kategori manusia pula.

 

(Ignatius Bambang Sugiharto; seorang filsuf, seniman dan budayawan Katolik)

 

***

 

                    LAGU BIRU

       oleh: Michael Dhadack Pambrastho

 

 

Meja kayu, sepasang kursi

Bunga mawar, merah dan putih

Nyala lilin, sinar bintang

 

Kasih, berjagalah denganku

Malam memang masih akan panjang

Tapi kutahu aku akan aman bersamamu

Kau dan aku

Cinta kita

Abadi selamanya

 

Detik-detik yang tanggal

Hari-hari yang jatuh dipukul deru

Tahun-tahun yang tak sempat terbaca oleh waktu

Betapa kuingin

Mengucap rinduku yang dalam kepadamu

 

Bahagiaku memilikimu di pelukku

Bahagiaku kau ada di hari-hariku

Kau hapus semua ragu, sesak dan sesal

Hingga kudapat berdiri tegak kini

Menghadapi dunia dengan matahari di dalam jiwa

 

Kasih, berjagalah denganku

Malam memang masih akan panjang

Tapi kutahu aku akan aman bersamamu

Kau dan aku

Cinta kita

Abadi selamanya

 

September 2008

 

 

 

                    BETAPA CEPAT, BETAPA MUDAH

     oleh: Michael Dhadack Pambrastho

 

 

betapa cepat waktu berlalu

peristiwa menindih peristiwa

betapa mudah ingatan tersapu

cerita-cerita kelabu begitu saja kita lupa

 

bukan maksudku memuja tangis

tapi dari penyingkapan atas masa lalu yang bengis

kita bisa belajar mengendalikan diri

dan tak jadi gamang dalam mengucap masa kini

 

enamlima, marsinah, udin, tanjung priok, lampung

dan sekian tragedi lain yang sempat menjulang

kini hanya tinggal jadi kenangan abu-abu

pengisi mimpi-mimpi kita yang penuh igau

 

hewan-hewan pemangsa dibiarkan leluasa menari-nari

menikmati lezatnya hari-hari yang terus berganti

menggelar kabut pada jiwa-jiwa mengkerut

menarik keuntungan dari pribadi-pribadi pengecut

 

bukan maksudku memuja tangis

tapi dengan melacak masa lalu yang bengis

kita bisa belajar mengendalikan harapan

dan tak jadi sombong tentang masa depan

 

namun, masih tersisakah keberanian

untuk mengurai jejak sejarah penuh nisan

sementara jaman telah begini berleleran permen

mabuk dicandu etalase-etalase penuh iklan

 

betapa cepat waktu berlalu

peristiwa menindih peristiwa

betapa mudah ingatan tersapu

cerita-cerita kelabu begitu saja kita lupa

 

September 2008

 

 

 

PERUBAHAN

oleh: Michael Dhadack Pambrastho

 

gerimis jatuh sebagai ribuan mata jarum. menyuntikkan kesunyian. aku terdiam di satu pojok kenangan. mengingat-ingat dunia lama. menghitung dengan gugup kemana kiranya dunia baru hendak berkelana. di luar sana, orang-orang ramai memperdagangkan beraneka rencana. tapi, di dalam kamarku, hanya ada aku dan diri berhadap-hadap muka. sepi.

 

dulu, orang-orang begitu takut bahkan untuk berpikir demi dirinya sendiri. sekarang, orang-orang tak puas jika tak ikut nimbrung angkat suara dalam persoalan apapun. tak perduli perkataannya benar atau sumbang dan melenceng, pokoknya bicara. dulu, orang-orang dikebiri dan takut menghadapi setiap yang lain dari dirinya. sekarang, orang tak bakal sanggup hidup tanpa keberanian menghadapi keragaman. dulu, orang-orang memuja ilmuwan dan dokter lalu menganggap mereka sebagai dewa-dewa penyelamat dunia. sekarang, ilmuwan sering disentil sebagai biang keladi pengrusakan alam dan manusia dan dokter kerap dicerca sebagai melulu pengeruk uang rakyat. dulu, ….. sekarang, ……

 

ada yang berubah memang. kuasa-kuasa lama meluruh dengan cepat. dikehendaki atau terjadi begitu saja secara alamiah. dan di hadapannya, kuasa-kuasa baru bermunculan menawarkan alternatif. tak selalu jelas arah yang dituju, atau apakah yang baru itu lebih baik atau tidak. tapi, memang, ada yang berubah.

 

Oktober 2015

 

 

 

 

 

 

 849 total views,  3 views today