Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. (Matius 6: 22-23)

 

***

 

Paus Pius meninggal dunia pada tanggal 28 Agustus 1914, sebulan sesudah perang dunia pertama pecah. Perang itu membawa perubahan-perubahan revolusioner bagi Eropa. Tahun 1918, seusai perang, dua kerajaan besar selama ratusan tahun, kekaisaran Austria-Hongaria dan kekhalifahan Turki, tidak ada lagi. Di Eropa Timur muncul negara-negara baru. Dalam revolusi Oktober 1917 kekaisaran Rusia Suci (Tsar Nikolaus sudah digulingkan pada tanggal 23 Februari 1917; pemerintahan Rusia kemudian dipegang oleh suatu pemerintahan sementara yang dijatuhkan dalam Revolusi Oktober) menjadi Uni Soviet, negara komunis pertama. Dan dari kekacauan politis, sosial, dan ekonomis pasca perang lahir suatu kekuatan mengerikan baru, fasisme. Tahun 1922 Benito Mussolini mengambil alih kekuasaan di Italia. Tahun 1933 Adolf Hitler mulai berkuasa di Jerman dan atas nama Nasional-Sosialisme (“Nazi”) membangun suatu rezim totaliter yang dalam 12 tahun eksistensinya membunuh sekitar 13 juta orang yang dicap “sub-manusia” dan “tak pantas hidup”. Di Spanyol Jenderal Franco mendirikan suatu rezim fasis sesudah ia mengalahkan kekuatan-kekuatan republikan yang kiri (dan anti-Gereja).

 

Perubahan-perubahan revolusioner dan menakutkan ini memaksa Gereja Katolik untuk semakin membuka diri. Kaum awam Katolik memakai keterbukaan-keterbukaan demokratis baru untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat. Mereka membentuk partai-partai Katolik yang segera memainkan peran penting dalam kehidupan negara masing-masing. Melalui segala macam perhimpunan dan perkumpulan bagi mahasiswa Katolik, pandu Katolik, muda-mudi Katolik, dan serikat buruh Katolik, orang-orang Katolik aktif dalam kehidupan bangsa mereka. Kaum cendekiawan dan sastrawan Katolik hadir dalam kehidupan intelektual dan sastra bangsa masing-masing melalui majalah dan di seminar-seminar. Teologi Katolik dibarui dengan pemikiran sekian teolog yang menempatkan Gereja dan misinya ke tengah-tengah tantangan pasca perang dunia pertama itu. Gerakan liturgis, gerakan ekumenis, gerakan Kitab Suci, mempersiapkan pembaruan-pembaruan Konsili Vatikan 40 tahun kemudian, di antaranya “teologi baru” (nouvelle theologie) di Perancis. Dalam reksa pastoral, dicoba jalan-jalan baru. Begitu misalnya, untuk membawa kembali Injil ke kalangan kaum buruh yang terasing dari Gereja dan kebanyakan mengikuti Partai Komunis, Kardinal Emmanuel C. Suhard (1874-1949) dari Paris mengizinkan ratusan imam masuk dunia perburuhan dengan menjadi buruh biasa (“imam buruh”) di dalam pabrik-pabrik.

 

Pimpinan Gereja pun membuka diri. Pengganti Paus Pius X, Clemens XV, menyatakan dukungan penuh Gereja terhadap usaha perdamaian. Penggantinya, Paus Pius XI (1922-1939), pada tahun 1928 menandatangani “Perjanjian Lateran” dengan Pemerintah (Fasis) Italia yang mengesahkan pengintegrasian negara Gereja ke dalam kerajaan Italia dan dengan demikian mengakhiri permusuhan antara Gereja dengan aspirasi nasional Italia. Berhadapan dengan ancaman fasisme dan komunisme, Paus mendukung kerja sama para politisi Katolik dengan politisi sosial-demokrat, liberal, dan demokratis lainnya. Tahun 1931, Pius XI menulis ensiklik Quadragesimo Anno yang mengembangkan ajaran Gereja tentang keadilan dalam hubungan perburuhan. Tahun 1937, Pius XI secara resmi mengutuk Nasional-Sosialisme Hitler dan komunisme.

 

Tahun 1945, Perang Dunia II berakhir dengan kekalahan telak Jerman Nazi dan Jepang, dengan 60 juta korban mati di semua pihak. Namun konflik di dunia tidak berakhir. Hanya beberapa tahun kemudian dunia terpecah ke dalam “dunia bebas” di bawah kepemimpinan Amerika Serikat dan “dunia komunis” yang dipimpin Uni Soviet (dan oleh Tiongkok yang kemudian bersaing dengan Uni Soviet). Sementara ini negara-negara yang sebelumnya dijajah memanfaatkan kelemahan Eropa untuk membebaskan diri satu demi satu.

 

Dalam konstelasi baru itu, Gereja Katolik tegas-tegas menempatkan diri di kubu anti-komunis. Melihat penindasan terhadap Gereja di banyak negara komunis, khususnya di Uni Soviet dan di Republik Rakyat Tiongkok, Gereja Katolik bersatu menganggap komunisme sebagai ancaman terbesar yang dihadapinya. Sekaligus Gereja mendukung pembebasan diri negara-negara yang masih dijajah. Dalam teologi, dibuka perspektif-perspektif baru. Salah satunya dirintis oleh antropolog dan teolog, Pastor Yesuit Pierre Teilhard de Chardin. Daripada menolak ajaran Charles Darwin tentang evolusi, Teilhard menunjukkan bahwa evolusi justru dapat dimengerti sebagai dinamika alam raya ke pemenuhannya dalam Yesus Kristus. Di Roma, pemikiran-pemikiran seperti itu masih dicurigai. Paus Pius XII (1876-1958) juga menolak “teologi baru” Perancis. Di lain pihak, Pius XII adalah Paus pertama yang menulis bahwa ajaran evolusi tidak harus ditolak oleh orang Katolik. Sesudah tahun 1943, dalam ensiklik Divino Afflante Spiritu, Pius XII mengajak para teolog Katolik untuk mempelajari Kitab Suci dengan memakai metode-metode kritis paling modern, suatu langkah yang memungkinkan para ekseget (ahli Kitab Suci) Katolik kembali ke dalam diskursus ilmiah tentang Kitab Suci dan amat mendukung pembaruan teologi Katolik di kemudian hari.

 

Pada 1958, para kardinal yang memilih Angelo Roncalli (1881-1963) yang sudah berumur 77 tahun sebagai Paus baru mereka, sebenarnya mau memilih seorang “Paus peralihan”. Ternyata Yohanes XXIII – itu nama yang dipilih Roncalli – membawa Gereja keluar dari ketertutupannya. Dalam ensiklik Mater et Magistra (1959), ia memperluas ajaran social Gereja dari masalah buruh ke masalah masyarakat yang lemah pada umumnya. Dalam ensiklik Pacem in Terris (1963), ia mengatakan dukungan Gereja Katolik terhadap hak-hak asasi manusia. Ia mencairkan sikap keras terhadap negara-negara komunis dan menjadikan pemeliharaan perdamaian dunia menjadi tugas penting Gereja. Namun kejutan paling bersejarah Paus Yohanes XXIII adalah keputusannya. Hanya tiga bulan sesudah dipilih Paus, ia mengadakan suatu konsili (yakni Konsili Vatikan II).

 

(Franz Magnis-Suseno, SJ; seorang imam Yesuit, filsuf dan budayawan Katolik)

 

***

 

     SEBUAH TAMAN SORE HARI

     oleh: Sapardi Djoko Damono

 

dari sayap-sayap burung kecil itu

berguguran sepi, sepiku

saat terhenti di sebuah taman ini

daun jatuh di atas bangku

 

di antara datang dan suatu kali pergi

beribu lonceng berbunyi

kekal sewaktu bercakap kepada hati

lalu kepada bumi. Di sini aku menanti

 

 

 

     catatan malam

    oleh: Wiji Thukul

 

anjing nyalak

lampuku padam

aku nelentang

sendirian

kepala di bantal

pikiran menerawang

membayang pernikahan

(pacarku buruh harganya tak lebih dua ratus rupiah per jam)

kukibaskan pikiran tadi dalam gelap makin pekat

aku ini penyair miskin

tapi kekasihku cinta

cinta menuntun kami ke masa depan

 

(solo-kalangan, 23 februari 88)

 

 

 

  LUKA

   oleh: Sutardji Calzoum Bahri

 

ha ha

 

 

 

 762 total views,  6 views today